
Being broken heart means: terbangun dari tidur singkat dengan sensasi nyeri yang mengagumkan. It’s like tons ‘f butterflies confrence on my stomach. Bersama hidung memerah, kantung mata menghitam, serta hati yang membiru. Ku coba bertahan menjalani satu lagi hari yang kelabu.
Aku dokter residen kardiovaskular tingkat pertama. Saat ini aku sedang bertugas di salah satu rumah sakit umum di
Kegiatan ini sama dengan yang kulakukan kemarin, dengan kemarinnya lagi, dan juga dengan kemarin dari kemarinnya lagi. Sama berarti sendiri. Alone, cuz we’re officially over.
’I will remember you’ milik Sarah Mc-lachlan mengalun dari G-Tab kesayanganku. Membawa anganku lepas, terbang dan melayang. Padanya, pria dungu yang padanya kusandarkan resah ku. Damn those time! sebab hitungannya harus terhenti minggu lalu. Sejak dia katakan ”aku menyerah, aku mundur”. Termangu, dalam pasrah ku tatap punggung itu berlalu, meninggalkan hatiku yang penuh pilu, sebelum akhirnya mulutku bergumam: bodoh!
Well, ternyata masih terlalu berat rasa ini melukaiku. Menyisakan hanya lara yang hingga kini masih menganga. Luka ini dalam, hingga seluruh hariku lebam, dalam malam akupun tertidur demam. Ingin rasanya kulepaskan saja tangisku, kubiarkan agar semua rasa ini bermuara. Retas, habis, tandas, tuntas saat ini juga. Namun tubuh ini berkata lain, tidak jua kelanjar lakrimalisku kering, izinkan barang sehari tangis pergi dari perihku.
Sekarang, hanya ada aku dengan sthetoscope putih di pangkuan, belajar tak lagi berharap pada semua cerita lalu. Hidup akan terus berjalan dan takdir akan menghadirkan banyak cerita baru. Untuk dia yang tidak mencintaimu dengan utuh, give him the best pray. So someday, when he falls in love again, he’ll do perfectly.
Lamunan ini memabukkan ku. Hingga tak kusadari aku tak lagi sendiri.
Tempat ini jadi ramai!
Celotehan kosong jadi riuh. Bengku-bangku lengkap berpenghuni. Meja sesak dengan minuman dan berbagai kudapan. Ada sepasang dokter yg rasanya saling menaruh harap di sudut kafe ini, banyak doa semoga harap kalian segera bersambut.
Tapi ini tempat umum. Mereka bukan salah jurusan. Hanya, diriku ini raga tak berjiwa, tubuh tak bersukma, lekat pada lara yang berpusara. Terdampar dalam segala keserbasalahan, meringis dalam berbaris-baris keperihan, lelap dalam bejuta kebodohan. Mungkin saatnya kembali bekerja. Kulepaskan headset Gtabku, kembali kugantung stetoskop dileher, aku bangkit waktunya kembali ke CVCU. Mungkin untuk 10 jam kedepannya lagi. Sebelum akhirnya otot-ototku kaku, sendiku beku, pun aku harus meringkuk. Mengaku pada lelah yang membatu.
Biar kuperjelas lagi.
Being broken heart for me means: paracetamol di pagi hari serta secangkor kopi di sore hari. Sibuk bertubi-tubi dan berjaga berhari-hari. Hingga akhirnya collapse aku pulang, tumbang di ranjang, menyerah pada lelahku yang panjang.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar