Daftar Blog Saya

Kamis, 08 September 2011

nu you? nu me?

Jika boleh memilih, would you like to start the life all over again? having a nu beginning? erasing the bad part of it?

Aku ingin berandai-andai, meninggalkan mu lantas memulai semua yang baru? tanpa alasan yang jelas, pun tanpa keberanian. Menyimpan semua bahagia kekal dalam sel-sel hati, lantas mengalirkan semua sedih kedalam pembuluh-pembuluh darah. Start a nu beginning? is it as simple as having a nu hair cut? a nu relationship? a nu promises to self? a nu environtment? or having a nu you back? well u mention it.
Tidak akan mudah tentunya, juga mungkin tidak akan lebih membahagiakan. Tapi tetap memilih meninggalkan mu? konyol bukan? namun beberapa hal memang biasanya tetap terjadi bahkan setelah tau ia akan menjadi lautan penyesalan atau hujan kesedihan. Selayaknya keniscayaan atau sebuah irama sirkardian cepat lambat, suka tidak suka dia terjadi. Seperti siang berganti malam, Insulin dan Glukagon, seperti tangan tuhan bukan?

Namun, tidak ada hal yang terjadi tanpa alasan katanya, kita cuma melewatkannya saja. Dipenggalan mana semua menjadi -t i a d a-. Maka, jika suatu saat kuputuskan untuk tidak lagi disini. Jangan sibuk bertanya apa alasannya. Aku tidak akan lihai menjabarkan semua detaillnya dengan sejumlah pembenaran dan air mata.

It will be simply because : kau tidak memberiku alasan untuk tinggal.

Sabtu, 03 September 2011

unofficially luv letters



Tidak pernah jelas kapan aku jatuh cinta padamu. Bagaimana, darimana dan dengan apa? rasa itu tiba-tiba saja di hatiku. Serupa angin bertiup melewati kisi-kisi jendela. Saat tersadar tau-tau dia sudah disana menjelma sejuta wujud. Resah, harap, marah, lucu, suka, kagum, kecewa, dll. Tidak juga kumengerti bagaimana menghentikannya. Dengan kata, dengan nama, bahkan dengan doa.

Sebab tidak pernah kurencanakan kedatangannya. Aku juga tidak tau kapan dia akan pergi, tidak peduli bagaimana kita akan menyebutnya. Teman, mantan, kekasih, mates? Dia tidak pernah kenal nama. Seperti api, namai dia dengan panas, merah, menyala, membakar, menghanguskan. Apalah… dia tidak pernah peduli. Sebab api akan tetap menjadi api. Begitu juga aku.

Apapun ceritamu, Bagiku kau akan selalu menjadi hujanku, memberi kehidupan pada bumi. Kau akan tetap seperti langit, membawa siang dan malam. Dan senantiasa seperti laut, menyembuhkan semesta alam.


Maka, jika kau tanyakan hari ini apa aku menyebut mu : aku menyebutmu –rindu.

Jumat, 02 September 2011

cerita h u j a n


Lihatlah apa yang kulakukan, tidak sedang menantimu pun mencoba meninggalkanmu. Pusaran rasa ini mengelilingiku lantas aku asik layaknya kenduri. Kinipun ada sekian tanya yang tidak kunjung terjawab dengan kata, pun lagu cinta tak bisa memberitahumu kenapa. Hujan ini harusnya lepas sejak sepetang, pun gigil layaknya enggan terkenang. Namun cerita hujan, menjelma awan. Berbaris tipis di jendela bumi, menggaris nasib camar hati yang tersembunyi. Menyambut angin menumpahkan hujan kembali.

Ada yang punya jas hujan?

being broken heart

Being broken heart means: terbangun dari tidur singkat dengan sensasi nyeri yang mengagumkan. It’s like tons ‘f butterflies confrence on my stomach. Bersama hidung memerah, kantung mata menghitam, serta hati yang membiru. Ku coba bertahan menjalani satu lagi hari yang kelabu.

Aku dokter residen kardiovaskular tingkat pertama. Saat ini aku sedang bertugas di salah satu rumah sakit umum di Makassar. Too bad cuz i was dumped a week ago, baru saja mendapat kesempatan mengistirahatkan tubuh kecilku yang nyaris remuk, setelah 24 jam non-stop berjaga di UGD. Maka kuputuskan menikmati secangkir kopi tubruk, lengkap ditemani roti bakar keju dengan 2 lapis telur mata sapi di cafetaria rumah sakit. Aku suka telur mata sapi yang mirip senja. Sebab senja hangat seperti kebersamaan kita. Kemarin.

Kegiatan ini sama dengan yang kulakukan kemarin, dengan kemarinnya lagi, dan juga dengan kemarin dari kemarinnya lagi. Sama berarti sendiri. Alone, cuz we’re officially over.

’I will remember you’ milik Sarah Mc-lachlan mengalun dari G-Tab kesayanganku. Membawa anganku lepas, terbang dan melayang. Padanya, pria dungu yang padanya kusandarkan resah ku. Damn those time! sebab hitungannya harus terhenti minggu lalu. Sejak dia katakan ”aku menyerah, aku mundur”. Termangu, dalam pasrah ku tatap punggung itu berlalu, meninggalkan hatiku yang penuh pilu, sebelum akhirnya mulutku bergumam: bodoh!

Well, ternyata masih terlalu berat rasa ini melukaiku. Menyisakan hanya lara yang hingga kini masih menganga. Luka ini dalam, hingga seluruh hariku lebam, dalam malam akupun tertidur demam. Ingin rasanya kulepaskan saja tangisku, kubiarkan agar semua rasa ini bermuara. Retas, habis, tandas, tuntas saat ini juga. Namun tubuh ini berkata lain, tidak jua kelanjar lakrimalisku kering, izinkan barang sehari tangis pergi dari perihku.

Sekarang, hanya ada aku dengan sthetoscope putih di pangkuan, belajar tak lagi berharap pada semua cerita lalu. Hidup akan terus berjalan dan takdir akan menghadirkan banyak cerita baru. Untuk dia yang tidak mencintaimu dengan utuh, give him the best pray. So someday, when he falls in love again, he’ll do perfectly.

Lamunan ini memabukkan ku. Hingga tak kusadari aku tak lagi sendiri.

Tempat ini jadi ramai!

Celotehan kosong jadi riuh. Bengku-bangku lengkap berpenghuni. Meja sesak dengan minuman dan berbagai kudapan. Ada sepasang dokter yg rasanya saling menaruh harap di sudut kafe ini, banyak doa semoga harap kalian segera bersambut. Ada segerombolan bebek-bebek mengikuti bapak bebek di meja sebelah kiri. Berdiskusi panjang mengenai isi kitab kedokteran kulit judulnya aku lupa, yang pastinya menguras otak dan membuat uban bertambah. Betapa ricuhnya! Ingin rasanya kutendang mereka semua menghilang. Biar kembali kuselami kesendirianku.

Tapi ini tempat umum. Mereka bukan salah jurusan. Hanya, diriku ini raga tak berjiwa, tubuh tak bersukma, lekat pada lara yang berpusara. Terdampar dalam segala keserbasalahan, meringis dalam berbaris-baris keperihan, lelap dalam bejuta kebodohan. Mungkin saatnya kembali bekerja. Kulepaskan headset Gtabku, kembali kugantung stetoskop dileher, aku bangkit waktunya kembali ke CVCU. Mungkin untuk 10 jam kedepannya lagi. Sebelum akhirnya otot-ototku kaku, sendiku beku, pun aku harus meringkuk. Mengaku pada lelah yang membatu.

Biar kuperjelas lagi.

Being broken heart for me means: paracetamol di pagi hari serta secangkor kopi di sore hari. Sibuk bertubi-tubi dan berjaga berhari-hari. Hingga akhirnya collapse aku pulang, tumbang di ranjang, menyerah pada lelahku yang panjang.

***