Perasaan itu laksana samudra luas, hutan belantara, juga langit yg tinggi menjulang hingga kaki tuhan. Ceritanya bisa bermacam macam, variasi nya bisa jutaan. Satu moment yang sama bagi dua anak kembar sekalipun dapat menjelma sejuta wujud. Perasaan ku padamu? Sudah lah cerita singkat ini satu partikel dari jutaan yang dapat kubagi. Sebab, aku mengingat mu berat, sudah seminggu ini.
Dirimu adalah kekasih jiwaku, sang Brida - Paulo Coelho- novel kesukaan kita, yang kutemukan sejak kita mulai belajar bolos bersama, berbicara melalui udara dan frekuensi hingga berteriak di tengah jalan. Waktu itu hari - hari adalah cerita sibuk, jadwal yang penuh sesak hingga jam kuliah berganti menjadi catatan tengah malam.
Aku memikirkanmu Brida, sudah semingguan ini.
Aku mendoakan mu lebih banyak, sudah semingguan ini.
Dalam kesibukan dan galau menjelang pernikahan, tulisan ringan ini sedikitnya bisa menjadi terapi simptomatis sementara. Ku ingat kau senang menggunakan istilah 'menjaga kita tetap waras'. Entah dengan apa kita suka meyakini bahwa pada dasarnya semua orang gila, hanya saja kabanyakan dari kita menjalani hidup seperti mayoritas orang menjalaninya : berdasarkan kebiasaan, nilai- nilai budaya, dan semua yang menggunakan kata pembuka 'biasanya bal, bla, bla'. Kita yang konon senang mencari kebenaran tidak sebatas benar karena mayorits orang mengatakan itu benar, merasa mempelajari manusia dan kemanusiaannya selalu menarik. Membawa libido ilmu pengetahuan kita ejakulasi, kita berdiskusi berdebat hingga akhirnya klimaks, kita kelaparan dan terdampar pada warung kopi atau sudut kantin yang masih buka diujung sore. Heiiiiiiiii... Sebentar lagi aku akan menikah, kamu dimana? -I need you you know-. Tentu saja tidak menikah dengan mu (kita memang gila, tapi tidak segila itu lah) hei, kamu yang sibuk batuk-batuk, ingin rasanya bercerita banyak padamu, kembali menjadikanmu tempat sampahku dimana aku bisa memaki semua orang dan meneriakkan banyak sumpah serapah. Sigh...
Aku merindukanmu, sudah semingguan ini.
Kira kira apa yang sedang kau lakukan disana yah? Berkejaran dengan hujan kah? Mengumpati mereka yang merokok di ruang publik mungkin? atau diam-diam sedikit saja memikirkan ku dan mendoakan ku baik-baik saja? Harapku. Entah sejak kapan aku berhenti mengejarmu, berhenti berlaku seenak perutku, berhenti mendefinisikan bahagiamu, dan berhenti menyusahkan mu dengan keluhanku yang egois dan manja. Tapi.......
Aku ingin bercerita padamu, sudah semingguan ini.
Rasanya waktu itu sore hari, saat kau katakan padaku bahwa kau sedang menjauhi ku karena tidak lagi nyaman bersama ku, aku saja yg tidak peka dan tidak tahu diri terus kembali dan menempel padamu. Katamu aku sudah melukai mu terlalu dalam, menyalahi hatimu pun tidak memilihmu. Aku pun hilang dalam diam, tersedak dalam isak tertahan. Aku menjadi diriku yang sekarang. Yang senantiasa menyayangimu dalam doa, merindukanmu dalam diam, dan ada disini bila kau membutuhkan ku kembali.
Sebelum akhirnya aku duluan menjadi istri yang baik, untukmu yang telah menjadi kekasih, sahabat, saudara ku yang terbaik, aku ingin mengutip paragraf terbaik untukmu :
Makin dewasa kita makin akrab dengan kekecewaan, baik dari orang yg seharusnya tidak pantas mengecewakan kita sekalipun. Kita patah hati, dan dipenggalan lain mematahkan hati orang lain. Kita bertengkar satu sama lain, berteriak, menangis, saling memunggungi dan menyesali waktu-waktu yang terlalui sendirian.
So, lets go crazy, laugh a lot, forgive freely, and love like you've never been hurt. Let's not thinking what anybody maight thinking of us as long as we think straight and healthy on them. Life comes with no guarantees, no times out, no second chances. So, live in the moment, give life to the fullest, tell someone what they mean to us, speak out, dance on the pouring rain, hugs a lot, stay up late, and smile wide like you always have, even its no neccessary to smiled. - hhhaaahh... Sering kupikir apa pipimu tidak nyeri dengan senyum selebar itu. Tp itulah kamu, senyum simpul dan senyum pas foto bukan untuk dagu panjang mu.
Last but not least, hope we could always fall in love most of the time darling, because happiness is the second where we decided not to upset or being hurt. I love you.
Aku menyayangi mu, sejak dulu, semingguan ini dan sepanjang umurku.


