Kata-kata berhamburan, meski kita tidak pernah benar mengerti arti tiap-tiapnya. Sesuai hukum yang mengenai mereka, pun kata saling mencari, bertautan, terangkai, menyatu melahirkan makna. Dalam sebuah keteraturan acak kosmos bermain.
Maka kita pun memulai dengan sebait hai atau apa kabar di akhir penantian denting 12. Kau akan lebih banyak bergumam atau tertawa terbahak. Aku sekedar berkisah patah satu-satu tentang kutipan koran pagi, keluhan pasien sepanjang siang, hingga ramainya mereka yg bertepi menadah hujan disenja hari. Semua berjalan biasa.
Bola waktu pun terus bergulir dimana kita terkubur dalam butirannya. Bersama ringan saja kata merangkai cerita mengambang di telaga tanpa riak, lepas mengapung di lautan datar. Membawa kita perlahan saling menghapal dan mengingat. Tentang teori mu, diagnosa ku, warna bajumu, tempat laundryku, cita-citamu, cita-citaku, hingga cita-cita kita. Ingatan tergenang memenuhi ruang sukma, memompa jantung, banjiri benak. Dan gegabah kita mendulang pundi-pundi kenangan.
Kenangan-kenangan itu berbuah rindu. Rindu menjelma kanker. Mengalir bersama darah menyusuri tiap lekuk pembuluhnya, menemani ditiap percabangannya, mengendap pada tiap muara alirannya. Aku pun jatuh sakit. Jatuh sesakit-sakitnya, sakit sejatuh-jatuhnya. Hadirmu jadi ekstasi menahan nyerinya, membalut perihnya, melepaskan sesaknya. Dan diriku menyerapmu penuh, mengisapmu luruh, menegukmu butuh. Ah, bahagia kah!
Musim pun berganti, tanah menggaris setengah kering, angin beranjak menanggalkan gigil. Tapi kita seolah menolak kemarau. Menolak berkemas, bergegas dan tergesa. Malah memutuskan untuk tetap tinggal meski basah, hanyut dan tenggelam. Sering kita meragukan letup bahagia yang memberangus sukma. Berdebat mungkinkah meredam dunia dalam kebahagiaan. Membekukannya, dan mencicipinya tiap ingin selayaknya makanan siap saji. Tak jua menemukan jawabannya, resah kita hanya bisa saling bertanya.
Kekasih, bertahankah kita saat rasa itu menyambar begitu saja. Melesat. Menghambur. Ingatan menjadi kilatan-kilatan cahaya yang tak pernah selesai mengerjap. Kenangan menyergap, menindih, dan membungkus erat. Sakit di hati, sesak di dada, penat di kepala menagih kurungan kebahagiaan yang tanpa sadar kita temukan. Tujuh purnama berselang cinta ini kian ber-metastase, tak kuasa kubekap rasa ini kian membuncah.
Maka maafkan aku, telah kubiarkan hatiku bunuh diri. Menyimpanmu selengkapnya, menatamu serapihnya, menagihmu selamanya. I luv u.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar